Manusia hidup dengan lingkungannya, dimana manusia hidup maka disana ada solusi yang disiapkan oleh Allah swt untuk membantu manusia menyelesaikan beragam persoalan yang dihadapinya. Dan Allah telah sangat sempurna mempersiapkan semuanya agar manusia dapat bertahan dengan realitas lingkungannya dan segala permasalahan yang dihadapinya. Pada masyarakat dengan empat musim maka Allah swt menyiapkan segala hal dalam diri dan lingkungannya agar manusia dapat bertahan hidup dalam kondisi yang demikian. Sehingga kita menjumpai seseorang yang memiliki ras kulit warna putih atau hitam cenderung lebih kuat dalam menghadapi cuaca yang sangat dingin atau ekstrem sekalipun. Sementara manusia dengan ras kulit warna sawo matang lebih bertahan dengan cuaca tropis yang hanya memiliki dua musim.

Demikian pula, Allah swt sang Maha Pencipta dengan sangat sempurna telah menciptakan kehidupan dengan penuh keseimbangan dan cocok sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh penduduknya. Artinya keadaan manusia dimana mereka hidup telah disesuaikan dengan potensi alam yang dimilikinya demikian pula sebaliknya. Secara sempurna Allah swt telah menjelaskan dalam al Quran  :

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Ya-Sin, Ayat 36)

Para ahli tafsir memberikan sebuah penjelasan yang sangat lengkap dalam membahas persoalan ini. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab tafsirnya, seperti tafsir Qurtubi, tafsir al washit oleh Muhammad S Thantawi, Tafsir Muhaamd Mutawalli asy sya’rawi, memberikan beberapa penjelasan, bahwa setiap apapun telah Allah sesuaikan berdasarkan potensinya masing-masing secara berpasang-pasangan. Sehingga setiap apapun persoalan yang dihadapi manusia maka secara bersamaan pula Allah telah menyiapkan solusinya. Disaat manusia sakit maka Allah menyediakan obatnya. Sebagaimana pula Rasulullah bersabda bahwa:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

“Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari)

Setiap sesuatu penyakit ada obatnya, dalam segala sesuatu yang menjadi jalan penyakit maka Allah juga menciptakan penawarnya disana pula secara bersamaan dan berpasangan. Ibarat seseorang makan durian yang dikatakan memiliki bau yang kuat menyengat serta mengandung kolesterol tinggal maka secara bersamaan pula Allah swt menciptakan penawarnya pula secara berpasangan yang tidak jauh darinya yaitu pada kulit ari yang brrsentuhan dengan buah durian tersebut.Demikian pula lombok (cabe) yang memiliki khasyiah pedas yang menyebabkan bisa sakit perut namun Allah swt memberikan penawarnya pada tangkai yang menempel di buah lombok tersebut.

Sebelum masa pengobatan menggunakan pendekatan kimiawi, manusia lebih banyak menggunakan bahan alami, yang dikenal dengan istilah herbal. Obat Kimia yaitu obat yang mempunyai campuran bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh dan Bersifat paliatif, artinya obat ini akan menyembuhkan penyakit, tetapi bila obat tersebut terjadi pengendapan akan menjadi racun yang berbahaya. Sementara Obat herbal/ tradisional yaitu obat yang diolah secara turun temurun dari nenek moyang kita dengan bahan alami dari alam tanpa campuran kimia yang kita menyebutnya pula dengan istilah “jamu”. Biasanya obat herbal ini Hanya untuk mencegah, pemulihan, dan mengobati penyakit yang memerlukan pengobatan yang lama dengan reaksi lambat namun bersifat konstruktif.

Masyarakat kita telah menjadikan penggunaan obat herbal ini sebagai bagian dari kecerdasan atau kebijaksanaan local (local wisdom) dalam menyembuhkan berbagai penyakit yang mereka alami. Penggunaan keterampilan herbal ini ternyata dilakukan secara turun menurun dan membuahkan hasil yang dapat merasakan. Hal ini terbukti penggunaan obat tersebut atau pendekatan penyembuhan berbahan alami tersebut terus berlangsung hingga hari ini, sekalipun dalam perkembangannya tergerus oleh obat kimiawi melalui pengobatan yang dilakukan di rumah sakit dan para dokter masa sekarang. Namum tak bisa dipungkiri bahwa keyakinan masyarakat khususnya masyarakat desa atas keampuhan obat herbal masih terus terjaga. Bahkan sering kali pada saat seseorang sakit dan telah melakukan pengobatan secara maksimal namun manakala semua usaha tersebut di anggap belum berhasil, maka mereka cenderung berusaha untuk mencari model pengobatan alternatif ataupun herbal. Solusi kesehatan dengan menekankan pada pendekatan yang herbal ini sesungguhnya berdampak pada ketergantungan yang tinggi atas alam, sehingga berkonsekwensi pada adanya upaya kuat dari manusia untuk terus mampu menjaga kelestarian alam dengan baik. Artinya, hikmah dari adanya pandemi corona ini adalah munculnya kembali semangat untuk kembali ke alam (back to nature) yaitu kembali kepada kebijaksanaan lokal dan kembali bersyukur atas penciptaan.

Wabah corona yang menjadi pandemi dunia hingga hari ini belum ditemukan obatnya ataupun vaksinnya. Hal ini juga diperparah dengan proses mutasi yang terjadi atas virus ini. Bahkan sebuah penelitian mengklaim corona bermutasi bergantung kondisi di masing-masing negara. Tingkat mutasi yang sangat cepat dan pada setiap negara bisa berbeda maka hal ini akan berdampak pada proses adaptasi perilaku dalam menghadapi serangan penyebaran virus ini serta pula akan menjadi lebih sulit untuk membuat vaksin dari virus yang berkembang cepat tersebut. Dengan realitas yang demikian maka pengobatan dengan pendekatan potensi lokal atau eksplorasi atas kekayaan pengobatan lokal menjadi sebuah keniscayaan. Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa, setiap penyakit yang Allah swt turunkan pada manusia, pasti ada obatnya. Lalu, obat tersebut juga pasti telah Allah swt sediakan berada di sekitarnya, sebagaimana konsep “mutazawwijaani” (berpasang-pasangan), yang artinya penawar atas suatu masalah tertentu pasti ada di sekitarnya, di tempat yang dekat dengannya dan bukan berada di tempat yang jauh. Sehingga penawar atas virus corona ini sesungguhnya pasti telah Allah swt berada di sekitar kita sendiri masing-masing dan bukan berada di tempat lain. Dengan argumentasi diatas maka tawaran vaksinasi global yang di dengungkan oleh sebagian pihak merupakan sesuatu yang jauh dari keniscayaan dan apabila masih saja terus dipaksakan maka tidaklah salah apabila ada sebagian kalangan yang mencium adanya sebuah konspirasi. Wallahu a’lam. Oleh : Akhmad Muwafik Saleh

%d bloggers like this: