Akhlaq adalah misi utama kenabian. Sebagaimana disabdakan oleh nabi bahwa tiadalah beliau diutus ke muka bumi kecuali dalam rangka untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Selama masa pandemi disaat manusia dikarantina di rumahnya masing-masing, work from home yaitu mereka tetap melaksanakan pekerjaan dari rumah maka kegiatan semuanya bermula dari rumah. Sehingga media yang paling efektif untuk tetap menghubungkan seseorang dengan realitas sosialnya adalah media sosial seperti WA, FB, Line. Sementara media yang mampu menghadirkan tatap muka banyak orang dalam sekali pertemuan dalam satu kesempatan adalah melalui beberapa aplikasi media seperti zoom, google meeting dan sebagainya.

Namun ada fenomena yang mengenaskan pada seseorang menggunakan media-media tersebut yaitu hilangnya nilai-nilai etika. Coba kita perhatikan, pada saat seseorang sedang mengikuti meeting seperti seminar, kuliah, rapat dan sebagainya. Pada sebagian mereka kadang tidak mengindahkan tatanan etika dalam bermedia itu. Padahal akhlaq haruslah hadir dalam setiap kesempatan realitas apapun dalam interaksi antar manusia.

Masa new normal yang membatasi ruang gerak interaksi akibat dampak dari pandemi corona telah merubah cara komunikasi antar manusia. Untuk itu perlu digali kembali nilai-nilai etika dalam interaksi bermedia agar manusia tetap berada dalam bingkai adab yang menjadikannya mulai sebagai makhluk yang beradab. Berdasarkan asumsi bahwa komunikasi bermedia adalah realitas interaksi yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan komunikasi dalam realitas diadik. Sehingga penerapan perilaku harusnya juga memperhatikan nilai-nilai adab yang baik pula.

Prinsip-prinsip etika yang harus dibangun dalam bermedia antara lain  :

1. Dilandasi niat baik untuk menjalin hubungan baik dengan siapapun saja. Niat yang akan mengarahkan manusia pada suatu tindakan. Nilai suatu tindakan ditentukan oleh niatnya Untuk itu dalam komunikasi bermedia haruslah dibangun atas niat baik untuk menjalin hubungan harmonis dengan siapapun. Bagaimana disebutkan dalam hadits,

 إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.” (HR. Bukhari).

2. Diniatkan untuk memberikan kemanfaatan dan kebaikan kepada yang lain. Setiap kebaikan yang kita sampaikan dan kita sebar, jika hal tersebut ditiru oleh orang lain tentu akan menjadi multilevel kebaikan dan pahala untuk para pelakunya. Sebagaimana disampaikan dalam hadis nabi,

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no).

3. Pada saat berkomunikasi secara online maka tetap bangun antusiasme. Jika seseorang menyapa dengan salam maka harus dijawab pula, jika bertanya harus dijawab pertanyaanya dengan antusiasme. Bentuk antusiasme dalam komunikasi bermedia sosial adalah responsif dalam memberikan tanggapan terhadap orang lain dan tidak mendiamkannya.

4. Produksi pesan harus dilandasi oleh kejujuran, seraya menyadari bahwa jika berbuat jujur maka akan melahirkan ketenangan dalam diri dan masyarakat. Seseorang yang selalu berbuat jujur maka dirinya juga akan tercatat sebagai seorang yang jujur, demikian pula sebaliknya. Sabda Nabi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ  يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا (رواه مسلم)

“Kalian harus jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” (HR. Muslim)

5. Tidak menyebarkan kebohongan atau hoax. Karena kebohongan adalah sumber kehancuran. Jika kebohongan dia disebarkan oleh orang lain maka tentu akan berdampak pada menyebarnya kebohongan dan dirinya akan pula mendapatkan multilevel dosa atas kebohongan yang diakibatkan oleh orang lain. Kebohongan hanya akan menjadikan ketidaktenangan dalam diri dan menghilangkan keberkahan hidup. Sebagaimana sabda Nabi  :

إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِى الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ

“Hati-hatilah dengan banyak bersumpah dalam menjual dagangan karena Ia memang melariskan dagangan namun malah menghapuskan keberkahan.” (HR. Muslim).

6. Tidak menyebarkan berita, tulisan atau gambar yang bernuansa pornografi. Keburukan yang disebarkan hanya akan menjadikan berlipatnya dosa akibar keburukan diikuti oleh orang lain.

7. Bersabar dalam menyebarkan pesan dengan berhati-hati dan memastikan informasi yang diperoleh dan akan disebar adalah benar. Jangan mudah menyebarkan tanpa melakukan penelitian kebenaran serta menjelaskan sumber berita. Bahkan termasuk suatu kebohongan apabila menyebarkan semua informasi yang diperoleh sebab manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat suatu pesan secara utuh (tanpa merubah sedikitpuni) hal itu tidak mungkin. Rasulullah bersabda  :

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

8. Jika mendapatkan berita negatif bernada fitnah  dan bernada keburukan lainnya biasakan untuk melalukan tabayyun atas berita. Demikian pula menjadikan mekanisme tabayyun sebagai cara untuk mengurangi noise dan rusaknya informasi. Namun apabila mekanisme ini tidak dijalankan maka tentu akan dapat membuat musibah bagi orang lain. Sebagaimana Firman Allah swt  :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat, Ayat 6)

9. Menjauhkan dari menyebar berita yang bernada provokasi, menebarkan kebencian dan dapat memunculkan perselisihan. bahkan demikian sangat dibenci dalam Islam dan dikategorikan dengan seseorang yang suka nakan daging bangkai saudaranya sendiri. Allah swt mengingatkan  :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Hujurat, Ayat 11)

10. Apabila menyebarkan pesan gambar atau atau video dan suara harus diberi penjelasan agar orang dapat memilih apakah akan melanjutkan melihat atau mendengarkannya. Jangan jadikan media sosial yang kita punya sebagai tempat sampah.

Beberapa point tersebut diatas patut untuk terus diingatkan kepada masyarakat terkait protokol bidang komunikasi agar nantinya tidak terjadi bencana komunikasi yang merusak bangunan sosial masyarakat. Secara spesifik disaat seseorang sedang menggunakan aplikasi media komunikasi online semisal google meet atau zoom dan sejenisnya, perlu pula kiranya membangun nilai-nilai etika dalam hal ini. Mengingat seringkali dijumpai berbagai perilaku komunikasi yang cenderung menggerus nilai-nilai etika komunikasi. Hal yang patut dijadikan perhatian dalam kode etik bermedia online tersebut antara lain : Ucapkan salam diawal pertemuan, matikan speaker kecuali akan menyampaikan pendapatnya atau berbicara, hidupkan video atau kamera dan jangan dimatikan agar kehadiran kita benar-benar dirasakan dalam forum tersebut, duduk menghadap kamera dan bersikaplah swcara antusias serta sopan dalam berinteraksi selama meeting berlangsung, jangan berjalan-jalan karena hal demikian dianggap tidak sopan dalam sebuah forum, serta jika akan keluar dari forum tentu harus meminta ijin terlebih dahulu dengan cara menuliskan di kolom chat. Semua ini penting dilakukan agar komunikasi berjalan lancar dan dipersepsi positif oleh orang lain. Sebab cara kita berkomunikasi menjelaskan tentang kualitas diri dan kepribadian kita. Berkomunikasi adalah membangun citra diri kita. Dahulukan adab dalam suasana apapun. Wallahu a’lam. Oleh : Akhmad Muwafik Saleh